|
PAHLAWAN ACEH - Aceh's Hero
Aceh adalah sebuah bangsa yang sangat gigih dalam
mempertahankan kemerdekaannya. Kegigihan ini dapat dilihat dan dibuktikan oleh sejumlah Pahlawan (baik pria
maupun wanita), serta bukti-bukti lainnya, diantaranya sembilan jenderal
Belanda tewas dalam perang Aceh, serta kuburan Kerkhoff yang
pernah mencatat rekor sebagai kuburan Belanda terluas di luar
Negeri Belanda. Diantara para pahlawan Aceh tersebut adalah sbb:
Sultan Iskandar Muda |
Teuku Umar |
Panglima Polem |
Teuku Nyak Arief |
Teungku Fakinah |
Teungku Chik Ditiro |
Teuku Chik Di Tunong
##
Perempuan Pejuang Aceh:
Ratu Nihrasiyah |
Laksamana Keumalahayati |
Laksamana Leurah Ganti dan Laksamana Muda Tjut Meurah Inseuen |
Divisi Kemala Cahaya |
Ratu Safiatuddin |
Sri Ratu Nur Alam Nakiatuddin Syah |
Sri Ratu Inayat Syah Zakiatuddin Syah |
Ratu Kumala Syah |
Cut Nyak Dhien |
Cut Nyak Meutia |
Pocut Baren |
Pocut Meurah Intan
Ratu Safiatuddin (1854 - 1899)
Bergelar Paduka Sri Sultana Ratu Safiat ud-din Taj ul-’Alam Shah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti
al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Shah. Dilahirkan dengan nama Putri Sri Alam. Safiat ud-din
Taj ul-’Alam memiliki arti “kemurnian iman, mahkota dunia.” Ia memerintah antara tahun 1641-1675. Diceritakan
bahwa ia gemar mengarang sajak dan cerita dan membantu berdirinya perpustakaan di negerinya.
Sebelum ia menjadi ratu, Aceh dipimpin oleh suaminya, yaitu Sultan Iskandar Thani (1637-1641). Setelah Iskandar Thani
wafat amatlah sulit untuk mencari pengganti laki-laki yang masih berhubungan keluarga dekat. Terjadi kericuhan
dalam mencari penggantinya. Kaum Ulama dan Wujudiah tidak menyetujui jika perempuan menjadi raja dengan
alasan-alasan tertentu. Kemudian seorang Ulama Besar, Nurudin Ar Raniri, menengahi kericuhan itu dengan menolak
argumen-argumen kaum Ulama, sehingga Ratu Safiatuddin diangkat menjadi ratu.
Ratu Safiatuddin memerintah selama 35
tahun, dan membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut berperang dalam Perang Malaka tahun 1639. Ia juga
meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah dari kerajaan. Sejarah
pemerintahan Ratu Safiatuddin dapat dibaca dari catatan para musafir Portugis, Perancis, Inggris dan Belanda.
Ia menjalankan pemerintahan dengan bijak, cakap dan cerdas. Pada pemerintahannya hukum, adat dan sastra berkembang
baik.
Referensi: http://www.kalyanamitra.or.id/kalyanamedia/2/1/kronik2.htm
|