|
PAHLAWAN ACEH - Aceh's Hero
Aceh adalah sebuah bangsa yang sangat gigih dalam
mempertahankan kemerdekaannya. Kegigihan ini dapat dilihat dan dibuktikan oleh sejumlah Pahlawan (baik pria
maupun wanita), serta bukti-bukti lainnya, diantaranya sembilan jenderal
Belanda tewas dalam perang Aceh, serta kuburan Kerkhoff yang
pernah mencatat rekor sebagai kuburan Belanda terluas di luar
Negeri Belanda. Diantara para pahlawan Aceh tersebut adalah sbb:
Sultan Iskandar Muda |
Teuku Umar |
Panglima Polem |
Teuku Nyak Arief |
Teungku Fakinah |
Teungku Chik Ditiro |
Teuku Chik Di Tunong
##
Perempuan Pejuang Aceh:
Ratu Nihrasiyah |
Laksamana Keumalahayati |
Laksamana Leurah Ganti dan Laksamana Muda Tjut Meurah Inseuen |
Divisi Kemala Cahaya |
Ratu Safiatuddin |
Sri Ratu Nur Alam Nakiatuddin Syah |
Sri Ratu Inayat Syah Zakiatuddin Syah |
Ratu Kumala Syah |
Cut Nyak Dhien |
Cut Nyak Meutia |
Pocut Baren |
Pocut Meurah Intan

Teuku Cik Di Tiro (1836-1891)
Muhammad Saman, yang kemudian lebih di kenal dengan nama Teuku Cik Di Tiro,
adalah seorang pahlawan dari Aceh. Ia adalah putra dari Teungku Sjech Ubaidillah.
Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Sjech Abdussalam Muda Tiro.
Ia lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dajah Jrueng
kenegerian Tjombok Lamlo, Tiro, daerah Pidie Aceh. Ia dibesarkan dalam
lingkungan agama yang ketat.
Ketika ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agamanya.
Selain itu tidak lupa ia menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada disana,
sehingga ia mulai tahu tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang
melawan imperialisme dan kolonialisme. Sesuai dengan ajaran agama yang
diyakininya, Teungku Cik Di Tiro sanggup berkorban apa saja baik harta benda,
kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinan ini
dibuktikan dengan kehidupan nyata, yang kemudian kebih dikenal dengan Perang
Sabil.

Dengan Perang Sabilnya, satu persatu benteng Belanda dapat direbut. Begitu pula
wilayah-wilayah yang selama ini didudki Belanda jatuh ke tangan pasukan Cik Di
Tiro. Pada bulan Mei tahun 1881, pasukan Cik Di Tiro dapat merebut benteng
Belanda Lambaro, Aneuk Galong dan lain-lain. Belanda merasa kewalahan akhirnya
memakai "siasat liuk" dengan mengirim makanan yang sudah di bubuhi racun. Tanpa
curiga sedikitpun Cik Di Tiro memakannya, akhirnya meninggal pada bulan Januari
1891 di benteng Aneuk Galong.
Salah satu cucunya adalah Hasan Di Tiro, pendiri dan pemimpin
Gerakan Aceh Merdeka.
Referensi: Kebudayaan On-Line,
|